Tahukah Sobat bahwa “satu dari empat perempuan di Indonesia mengalami kekerasan fisik, seksual, atau psikologis dalam satu tahun terakhir”, menurut Survei Pengalaman Hidup Perempuan Nasional (SPHPN) 2024. Perempuan di Indonesia menghadapi tingkat kekerasan yang semakin tinggi dan memiliki perlindungan hukum yang lebih sedikit saat berhadapan dengan kekerasan, namun gerakan volunteer di seluruh negeri terus berjuang untuk bisa mendukung perjuangan dan pemberdayaan perempuan. Meski sebagian orang beranggapan bahwa volunteer tidak bisa membuat banyak perubahan nyata tanpa adanya perubahan hukum, volunteering sebenarnya mampu mengubah masyarakat jauh lebih besar dari yang banyak orang bayangkan.

Dampak Volunteering

Volunteering menciptakan apa yang oleh para ahli sebut sebagai collective efficacy, sebuah kekuatan besar yang bisa membentuk masyarakat. Collective efficacy didefinisikan dalam Edisi Ketiga Ensiklopedia Kesehatan Mental sebagai “keyakinan bersama yang dipegang oleh anggota kelompok dan komunitas tentang kemampuan mereka untuk mencapai tujuan yang diinginkan.” Sederhananya, hal ini adalah kepercayaan diri sebuah komunitas terhadap dirinya sendiri. Jika seseorang merasa bahwa komunitasnya memiliki collective efficacy yang tinggi, yaitu potensi nyata untuk membuat perubahan, maka mereka akan lebih terdorong untuk menjadi volunteer (Richardson 20). Collective efficacy menumbuhkan rasa persatuan dan tujuan bersama, serta memanfaatkan mentalitas kelompok untuk kebaikan bersama.

Ketika seseorang melihat orang lain mengambil tindakan atas sesuatu yang juga mereka pedulikan, mereka akan menyumbangkan waktu dan tenaga karena merasa sedang berkontribusi pada upaya bersama yang benar-benar bermakna (Bandura 86). Jika sebuah komunitas percaya pada dirinya sendiri dan kemampuannya untuk menciptakan perubahan positif, orang-orang akan merasa lebih terinspirasi untuk terlibat dan membuat perbedaan bersama (Bandura 86). Fenomena yang muncul dari volunteering ini sangat penting bagi kemajuan hak-hak dan kesetaraan perempuan terutamanya yang ada di Indonesia. Ketika orang-orang melihat orang lain aktif berjuang dan benar-benar membuat kemajuan nyata bagi hak perempuan, hal itu akan mendorong lebih banyak orang untuk ikut bergabung, karena mereka percaya bahwa mereka pun bisa membuat perbedaan.

Contohnya, dalam kehidupan saya, saya menyaksikan efek ini. Pertama kali saya ikut berunjuk rasa adalah saat gerakan Black Lives Matter pada tahun 2020, di mana saya bergabung dengan kerumunan besar yang mendorong reformasi kepolisian dan keadilan berbasis rasial. Seandainya saya berunjuk rasa sendirian di taman yang sama, satu jam sebelum acara dimulai, saya pasti merasa bahwa apa yang saya lakukan tidak akan berarti apa-apa. Saya akan berdiri sendirian dengan papan bertulisan, dan gestur saya tidak bermakna sama. Namun ketika saya berada di sana bersama semua orang lainnya, itu menjadi sesuatu yang berarti dan penting.

Bagaimana Collective Efficacy Mendorong Kesetaraan Perempuan

Sebagian dari sulitnya melawan kekerasan berbasis gender adalah karena hal itu sangat erat kaitannya dengan budaya: pandangan tradisional tentang peran perempuan dalam masyarakat sering kali menciptakan ketimpangan kekuasaan yang membuat kekerasan berbasis gender tidak dilaporkan dan jarang untuk diperhatikan. Namun, perubahan budaya hanya bisa terjadi dalam skala besar, di mana banyak orang dari berbagai latar belakang secara perlahan mulai merangkul gagasan atau keyakinan baru. Sebaliknya, perubahan bagi banyak orang ini hanya bisa terjadi pada tingkat individu, karena perjalanan setiap orang dalam menerima gagasan baru berkontribusi pada keseluruhan bersama.

Inilah mengapa collective efficacy, yang secara khusus diekspresikan melalui volunteering, begitu kuat: sebagai satu individu, kita bisa memengaruhi sesuatu yang jauh lebih luas dari sekadar diri kita sendiri. Tindakan volunteering menyebarkan kesadaran tentang hak-hak perempuan di Indonesia; orang-orang yang peduli terhadap hak perempuan bisa terinspirasi oleh orang lain yang berjuang untuk tujuan yang sama, perempuan yang berada dalam situasi penindasan atau kekerasan dapat melihat bahwa ada orang-orang yang memahami bahwa ini adalah masalah nyata dan sedang berusaha menyelesaikannya. collective efficacy memberi kekuatan kepada komunitas untuk membuat perubahan nyata, dan itulah yang penting dalam menghadapi isu-isu besar seperti hak perempuan di Indonesia.

Mengapa Volunteering Sangat Penting

Terakhir, volunteering adalah cara untuk terhubung dengan orang lain dan membuat mereka merasa dihargai, serta menciptakan efek amplifikasi yang luar biasa. Ketika orang-orang menjadi volunteer untuk program pendidikan bagi anak perempuan, rumah perlindungan perempuan, atau inisiatif dan organisasi yang menangani kekerasan berbasis gender, mereka tidak hanya membantu orang asing, mereka juga melindungi perempuan dalam kehidupan mereka sendiri dengan menciptakan masyarakat yang lebih toleran, aman, dan progresif. Menjadi volunteer untuk membantu orang yang belum dikenal bisa berujung pada terlindunginya ibu, saudara perempuan, sahabat, dan anak perempuan kita sendiri.

Dampak dari volunteering untuk perjuangan perempuan bersifat lintas generasi. Perempuan yang berdaya akan melahirkan putri-putri yang juga berdaya. Ketika para volunteer membantu perempuan mendapatkan layanan kesehatan, keluar dari situasi kekerasan, atau mengakses pendidikan, mereka tidak hanya memperbaiki satu kehidupan saja, tetapi mereka sedang membentuk kondisi yang akan menentukan generasi berikutnya. Seorang anak perempuan yang tumbuh menyaksikan ibunya didukung dan dihormati akan memulai hidupnya sendiri dengan kekuatan, martabat, dan harapan untuk masa depannya.

Volunteering membangun komunitas sekaligus menciptakan masyarakat yang lebih aman, tangguh, dan adil. Kemajuan bagi perempuan bukan hanya soal kerja institusi. Tanggung jawab itu ada pada kita semua, untuk saling melindungi dan membantu, serta menjadi volunteer untuk perjuangan yang bermanfaat bagi perempuan di tingkat lokal maupun nasional. Para volunteer, melalui waktu dan energi yang mereka dedikasikan untuk orang-orang di komunitas mereka dan lebih jauh lagi, benar-benar membuat dunia menjadi tempat yang lebih baik. Volunteering mengangkat perempuan dimanapun mereka berada, dan ketika perempuan berkembang, semua pun ikut berkembang.

Sumber:


Bandura, A. Landasan Sosial Pemikiran dan Tindakan. Upper Saddle River, NJ: Prentice Hall, 1986.


Richardson, Lucy. “Efektivitas Kolektif.” Oxford Bibliographies Online: Sosiologi, Academia.edu, 2020, www.academia.edu/41867109/Collective_Efficacy?email_work_card=view-paper

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *